ABU DZAR AL-GHIFARI ~Pemimpin Oposisi dan Musuh Kehidupan Mewah~
Ia berasal dari Ghifar, suatu kabilah yang terkenal sebagai biang keladi perampokan ilegal. Mereka adalah sahabat malam dan kegelapan yang tak kenal siapa pun sasaran yang akan dibegalnya.
Nama aslinya adalah "Jundub bin Junadah". Ketika zaman jahiliyah, berdasarkan riwayat ia adalah sesosok manusia yang menentang berhala dan memiliki keimanan kepada Rabb Yang Maha Agung lagi Maha Pencipta.
Buktinya, ketika terdengar pengutusan seorang Nabi yang mencela thogut dan menyeru pada Allah SWT, ia pun bergegas untuk dapat bertemu dengan sang Nabi.
Begitu kagumnya Rasulullah SAW dan terbukalah senyuman lebar darinya. Melihat sosok yang berasal dari bani Ghifar tersebut beliau heran terkesima padanya karena tau bagaimana tabi'at kabilah itu. Namun Abu Dzar rela mendatangi diri Rasulullah SAW jauh-jauh dari Ghifar dan tak peduli mesti harus dibunuh jika ada yang mengetahui tujuannya pergi ke tempat persembunyian Nabi SAW. Akhirnya ia pun menyatakan keislamannya langsung di hadapan Rasulullah SAW.
Dalam buku ini, disebutkan bahwa ia adalah sosok yang "radikal dan revolusioner". Karena ketika baru saja ia masuk Islam, ia langsung bertanya kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, Apa yang harus saya kerjakan menurutmu?".
Beliau menjawab, "Kembalilah kepada kaummu sampai ada perintah ku nanti!"
Beliau menjawab, "Kembalilah kepada kaummu sampai ada perintah ku nanti!"
Namun, Abu Dzar menyahut, "Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, aku tidak akan kembali sebelum meneriakan Islam di dalam masjid!"
Inilah teriakan pertama tentang agama Islam yang menentang kesombongan orang-orang Quraisy dan memekakan telinga mereka.
Lalu Abu Dzar kembali menemui keluarga serta kaumnya dan menceritakan kepada mereka tentang Nabi yang baru diutus Allah. Satu demi satu, kaumnya masuk Islam. Bahkan, bukan hanya pada kaumnya semata, namun dilanjutkannya pada suku lain, yaitu suku Aslam.
Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah bersama kaum muslimin, suatu hari satu barisan panjang yang terdiri atas para pengendara dan pejalan kaki menuju pinggiran kota. Kalau bukan karena suara takbir yang terdengar, orang pasti akan menyangka mereka itu adalah iring-iringan tentara musyrikin.
Ternyata rombongan itu tiada lain dari kabilah-kabilah Ghifar dan Aslam yang dikerahkan semuanya oleh Abu Dzar, baik laki-laki, perempuan, orang tua, remaja, maupun anak-anak.
Kali ini Rasulullah SAW semakin takjub dan kagum, belum lama berselang beliau takjub oleh seorang laki-laki dari Ghifar yang menyatakan keislaman di hadapan beliau. ketakjuban beliau itu ditunjukkan dengan dengan bersabda, "Sesungguhnya Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya."
Kini, raksasa garong dan komplotan setan telah beralih rupa menjadi pembesar kebajikan dan pendukung kebenaran. Pandangan Rasulullah SAW yang diliputi rasa haru dan cinta melayangkannya kepada wajah-wajah yang berseri-seri. Sambil menoleh kepada suku Ghifar, beliau bersabda :
غِفَارٌ غَفَرَ اللَّهُ لَهَا
"Suku Ghifar telah diampuni oleh Allah."
Kemudian menghadap kepada suku Aslam, beliau pun bersabda :
وَ أَسْلَمُ سَالَمَهَا اللَّهُ
"Suku Aslam telah diselamatkan oleh Allah."
Sumber :
Khalid Muhammad Khalid. Biografi 60 Sahabat Nabi SAW.(Jakarta: Ummul Qura, 2012). Hal. 63-73

Comments
Post a Comment