Antara Komitmen, Komunikasi, dan Konsistensi
Allah tidak akan pernah salah dalam menganugerahkan amanah pada setiap pundak hamba-Nya. Semua sudah dibagi dengan takaran dan porsi yang pas sesuai dengan kemampuan setiap manusia. Untaian kalimat yang begitu menenangkan hingga selalu terngiang-ngiang dalam setiap langkah perjalanan hidup seorang hamba di dunia. Semua sudah digariskan melalui ketetapan takdir Sang Pencipta, skenario terbaik dalam kehidupan bahkan sebelum manusia hadir dan menempati alam dunia ini.
Diberikan sebuah amanah merupakan proses pembelajaran untuk seluruh manusia saat ia menelusuri petualangan di alam yang sementara ini. Banyak hal yang ditemukan dan setiap hal yang ditemukan tersebut selalu memberikan makna dan arti untuk menelusuri jalan terjal kehidupan. Melihat firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 30, di sana kita bisa melihat bahwa dahulu Ia hendak menjadikan manusia sebagai “mandataris-Nya” di muka bumi ini. Pada saat itu juga malaikat meragukan kemampuan manusia untuk menjadi sosok mandataris tersebut, karena mereka tahu bahwa manusia sering melakukan pertumpahan darah.
Hingga pada akhirnya, Allah pun menawarkan tawaran untuk menjadikan makhluk yang diciptakan-Nya sebagai sang mandataris di muka bumi. Tawaran amanah tersebut diberikan kepada gunung yang sangat tinggi dan gagah. Namun, saat itu pun gunung menolak, bahkan sampai terjadi letusan saking tak inginnya menerima amanah yang begitu berat. Lalu dengan bodohnya, manusia yang tidak memiliki kegagahan seperti gunung tadi, ia menerima tawaran Allah Swt. tersebut. Begitu bodohnya manusia menerima tawaran untuk memikul sebuah amanah yang padahal itu sangat berat beban baginya. Tetapi di sisi lain ternyata Allah Swt. memberikan kemuliaan yang lebih pada manusia di atas kemuliaan yang Allah berikan terhadap makhluk lainnya. Dengan diciptakannya dalam keadaan ahsani taqwim (sebaik-baiknya bentuk), yang di dalamnya terdiri ruh dan jasad sekaligus membedakan sosok manusia dengan makhluk lainnya. Sehingga diharapkan dengan adanya dua unsur tersebut menjadikannya seimbang dalam pengelolaan diri dengan baik, bahkan muka bumi ini.
Suatu kisah menceritakan seorang mahasiswa bernama Fahri Alfarizi. Ia merupakan seorang mahasiswa yang sangat sederhana, namun kesederhanaan yang dimilikinya selalu mampu membuat teduh orang-orang di sekelilingnya. Seiring dengan perjalanan hidup yang ia lalui, sering kali ia dipertemukan dengan beberapa amanah yang menurutnya tidak mudah. Namun, yang menurutnya tidak mudah itu bukan berarti tidak mungkin. Manusia sudah diberikan akal oleh Allah Swt. untuk berpikir, sehingga ia bisa melakukan ikhtiar-ikhtiar terbaik dalam hidup. Selebihnya, manusia pun dianugerahkan kemampuan untuk mengendalikan hati dan berpasrah terhadap hasil akhirnya melalui untaian-untaian kalimat indah bernama doa yang diiringi dengan kepasrahan terhadap Allah Swt. Jadi, menurutnya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini selagi kita berusaha semampunya dan menyerahkan seutuhnya hasil akhir kepada Pemilik Semesta.
Fahri tumbuh dalam balutan cinta sempurna kedua orang tuanya yang mengajarkan tentang megahnya kesederhanaan. Perjalanan hidup yang ia lalui bukan perjalanan hidup yang mudah, lika liku terjal dalam menjalani kehidupan sudah menjadi hal yang tidak asing dalam perjalanan hidupnya. Sejak ia duduk di bangku SD, sudah tertanam beberapa prinsip dan kesepakatan dalam hidupnya. Saat itu pula, ia berjanji terhadap dirinya sendiri untuk tidak akan pernah mengingkari apa saja yang menjadi prinsip tersebut.
Saat ia memulai kehidupannya sebagai seorang mahasiswa, ia mulai menyusun harapan-harapan yang ia biarkan tumbuh dalam hatinya. Harapannya, agar ia bisa selalu menerima dan mencintai dirinya sendiri, itu merupakan hal yang sangat penting untuk menjalankan sebuah amanah dengan baik. Karena baginya, bagaimana kita akan menjalankan sebuah amanah ketika kita sendiri tidak merasa percaya dan yakin serta mencintai diri kita sendiri. Selain itu pula, harapan yang tumbuh dalam hatinya adalah agar ia bisa memberikan kebermanfaatan terhadap orang-orang di sekelilingnya. Bagaimana caranya agar ia bisa membantu orang-orang sekelilingnya untuk bisa menemukan dan bahkan menyalurkan potensi yang mereka miliki.
Harapan yang tumbuh dalam hatinya itu, ia tuangkan ketika ia aktif dan menjadi bagian dari relawan panti. Keinginannya untuk menjadi bagian darinya tersebut berangkat dari keadaan diri yang saat ini sudah tidak memiliki lagi seorang ayah. Harapan dirinya, agar seluruh anak-anak yang tidak lagi mempunyai orang tua lengkap, yatim, piatu, termasuk dhuafa meyakini bahwa mereka masih tetap memiliki harapan untuk dapat meraih cita-cita dan mimpi seperti anak-anak yang lainnya.
Selain itu Fahri pun diberikan kesempatan untuk menduduki posisi ketua suatu bidang dalam unit kemahasiswaan di kampusnya. Lika liku yang ia rasakan dalam pengalaman ini membuatnya tergerak untuk mencoba tumbuh kembangkan potensi diri dan para anggotanya di bidang keilmuan Al-Qur’an, tafsir, dan penulisan karya ilmiah. Moto yang selalu ia gaungkan kala itu yakni bina, prestasi, dan karya. Ketiga aspek itu dilakukan melalui pembinaan anggota, pengembangan potensi, dan berdaya karya.
Adapun amanah yang pernah didapatkan lainnya menjadi seorang ketua di himpunan jurusannya. Kala itu, ia berusaha bersama dengan teman-teman satu kepengurusannya supaya dapat mengembangkan potensi mahasiswa-mahasiswi di jurusannya itu. Ia membuat beberapa komunitas, yaitu komunitas di bidang ke-Al-Qur’an-an, perekonomian, penulisan dan juga kelas desain grafis. Atas segala bentuk ikhtiar yang ia lakukan dan dukungan orang-orang di sekitarnya dengan maksimal, diiringi doa-doa yang dilangitkan. Akhirnya, dari bentuk perjuangannya ini menghasilkan beberapa bentuk prestasi dan karya dari mahasiswa-mahasiswi di jurusannya.
Dalam perjalanan organisasi yang ia lalui tersebut, banyak didapatkan pelajaran berharga darinya. Lima kunci dalam berorganisasi misalnya, ia temukan supaya organisasi tetap bisa berkembang dan maju, yaitu: komitmen, komunikasi, koordinasi, konfirmasi, dan konsistensi. Kelima hal tersebut ia yakini dan jalani dalam setiap jalan pengalamannya. Poin-poin itu ia selalu ingat dan ingatkan pada orang-orang yang senantiasa bersama dengannya dalam sebuah wadah yang memiliki kesamaan tujuan. Tanpanya, organisasi dapat bermasalah karena hal demikian menjadi salah satu metode yang mampu memberikan kekuatan dan keberdayaan organisasi.
Hidup berorganisasi menjadi nutrisi sehari-hari bagi Fahri, pengalaman demi pengalaman selalu ia kumpulkan agar menjadi guru terbaik dirinya. Bahkan aktivitas lainnya ia pun menyibukkan diri dengan belajar mengajar di beberapa instansi dan tak lupa dengan kewajiban utamanya sebagai seorang mahasiswa. Sebagaimana Tri Dharma perguruan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, ia pula melakukan hal tersebut. Ilmu kehidupan membuat dirinya semakin merasa bodoh sebab semakin ia gali maka semakin paham bahwa tidak sedikit keilmuan dan pengalaman yang dapat diraih. Dan Fahri sangat bersyukur karena ditakdirkan mampu menamatkan bangku kuliahnya tepat waktu
Di sisi lain, kesadaran akan kerja sama-sama juga sama-sama kerja sangat dibutuhkan dengan dibalut nilai-nilai asas sadar posisi, sadar fungsi, dan sadar diri. Sadar posisi membentuk kesadaran terhadap di mana seharusnya individu berpijak dengan sebaik-baiknya. Sadar fungsi mewujudkan kesadaran terhadap kebermanfaatan individu di dalam suatu organisasi dan sadar diri menjadikan individu memiliki kesadaran bahwa keterbatasan memang benar-benar ada sehingga wajar manusia sangat bergantung pada hubungan dengan Sang Pencipta, sesamanya, dan lingkungannya.
Amanah-amanah yang telah dilalui Fahri sangat berkesan bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya. Oleh karenanya, ia sangat dibutuhkan masyarakat. Terbukti, dengan dipercayanya ia untuk menempati posisi dalam organisasi kemasyarakatan. Seperti dalam kepengurusan rukun tetangga dan dewan keluarga masjid, bahkan membina pemuda-pemuda di lingkungannya
Setiap amanah ialah tanggung jawab dan kesadaran Fahri sebagai makhluk sosial menyadari betul bahwa ia tidak pernah mampu untuk menyelesaikan amanahnya seorang diri. Ia yakin itu bisa terwujud dengan dimulai dari diri sendiri, dari hal yang kecil, dan dari sekarang. Adapun langkah menuju peradaban yang lebih luas ialah melalui diri yang baik, keluarga yang baik, masyarakat yang baik, negeri yang baik, dan bumi yang baik.
Baginya, komitmen sebagai bentuk keyakinan diri dalam setiap langkah hidup untuk senantiasa optimis, komunikasi yang terbangun adalah hal yang sangat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan amanah sebagai upaya agar menjadi diri yang bertanggungjawab, dan konsistensi merupakan bahan bakar motivasi hidup yang lebih bermakna.
Menurutnya, sebuah amanah menjadi suatu proses pendewasaan diri dan baginya sebuah amanah itu merupakan sesuatu hal yang harus dilalui dengan rasa ikhlas karena sebuah amanah yang hadir tidak untuk ditolak dan tidak untuk diminta, melainkan untuk dijalani dengan sepenuh hati, seisi jiwa, dan sepenuh-penuhnya keyakinan harapan. Pada akhirnya, setiap langkah adalah pilihan yang memberikan tantangan, sehingga Fahri berpesan untuk tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, karena satu, dua, dan tiga langkah ke depan menjadi bukti seberapa konsisten yang dilakukan setiap orang dalam prosesnya.
Created by: rojaact and shofaamaliaa_
Comments
Post a Comment